Just another WordPress.com site

TUGAS 3 BINDO


BAB 1. Tujuan dan Sasaran

1.1              Latar Belakang

            Sektor perikanan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional terutama dalam penyediaan lapangan kerja (padat karya), sumber pendapatan bagi nelayan, sumber protein hewani dan sumber devisa bagi negara (Dirjen P2HP 2007). Industri perikanan di dunia telah mengalami peningkatan yang siginifikan beberapa tahun terakhir ini. Data dari World Trade Organization pada tahun 2006, menyebutkan bahwa total ekspor komoditas perikanan dunia pada tahun 2002 mencapai USS 58.2 milyar yang mengalami peningkatan 5 % dari tahun 2000 dan 45% dari tahun 1992. Indonesia menempati tempat kedua bersama India, Taiwan, Denmark, dan Peru yang memiliki nilai ekspor lebih dari USS 1 milyar. Adapun industri perikanan di Indonesia telah memberikan sumbangan devisa pada tahun 2003 sebesar 940,30 juta dolar AS (sekitar Rp 8,09 triliun) dengan volume 375.583 ton (DKP 2009).

Data Dirjen P2HP (2007) menyebutkan bahwa total produksi perikanan pada tahun 2005 diperkirakan telah mencapai 4,71 juta ton, dimana 75 % (3,5 juta ton) berasal dari tangkapan laut. Ikan kakap (Lutjanus sp.) merupakan salah satu komoditas perikanan penunjang utama bagi devisa negara. Ikan kakap merupakan salah satu dari lima tangkapan terbesar di Indonesia, hasil tangkapan ikan kakap mencapai 13 % dari total tangkapan 2006 (SIMPATIK 2006). Berdasarkan data Indeks Statistik Perikanan Indonesia tahun (DKP 2009), total produksi ikan kakap merah cenderung mengalami peningkatan dari tahun 1999 hingga 2007. Grafik peningkatan produksi ikan kakap merah di Indonesia pada tahun 1999 hingga tahun 2007 dapat dilihat pada Lampiran 1. Akan tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini pula, Dirjen P2HP juga menjelaskan dalam seminarnya tahun 2007 lalu bahwa Indonesia mengalami penurunan nilai ekspor sebesar 27,8 % diakibatkan oleh lemahnya jaminan mutu keamanan hasil perikanan. Dari berbagai fakta tersebut menuntut adanya suatu penerapan sistem manajemen mutu khususnya yang bergerak di bidang keamanan pangan, seperti penerapan sistem HACCP yang disiplin sehingga dapat menghasilkan produk perikanan yang sesuai dengan tuntutan konsumen (Buyer).  

Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia melihat masalah keamanan pangan ikan dan produk ikan sebagai suatu isu yang diatur secara wajib, sehingga perlu diatur dalam suatu sistem yang harus ditaati oleh pelaku bisnis sektor perikanan (DEPKES RI 2007). Sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) merupakan salah satu bagian dari sistem yang menyeluruh dalam prosedur pengendalian mutu dan merupakan sistem yang tidak berdiri sendiri. Penerapan sistem HACCP tidak akan efektif apabila persyaratan kelayakan dasar unit pengolahan tidak terpenuhi. Program kelayakan dasar terdiri atas dua bagian pokok, yaitu GMP (Good Manufacturing Practices) dan SSOP (Sanitation Standard Operating Procedure) (Wiryanti dan Witjaksono 2001). GMP (Good Manufacturing Practices) adalah cara atau teknik berproduksi yang baik dan benar untuk menghasilkan produk yang benar memenuhi persyaratan mutu (wholesomeness) dan keamanan pangan (food safety) (DEPKES RI 2007). Kurangnya pemahaman nelayan, pengolah serta petugas TPI mengenai cara penanganan dan pengolahan yang baik merupakan salah satu penyebab utama penurunan nilai ekspor (Dirjen P2HP 2007). Oleh karena itu, penting dilakukan pemahaman lebih dalam mengenai praktek berproduksi yang baik terutama dalam bidang pengolahan hasil perikanan agar dapat dihasilkan produk yang lebih bermutu serta dapat diterima oleh konsumen.

1.2       Tujuan

            Pelaksanaan penulisan ilmiah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan meningkatkan keterampilan mahasiswa di bidang pengolahan hasil perikanan. Adapun tujuan khususnya adalah:

1)      Mengetahui keadaan umum perusahaan di PT Ujung Timur Sidoarjo Jawa Timur

2)      Mempelajari sistem GMP (Good Manufacturing Practices) yang diterapkan pada perusahaan pembekuan fillet ikan kakap beku di PT Ujung Timur Sidoarjo Jawa Timur

 

1.3                Ruang Lingkup

Dalam penulisan ilmiah ini penulis membatasi ruang lingkup masalah sebagai berikut:

  1. Mahasiswa dapat mengetahui manfaat dan kegunaan ikan kakap beku.
  2. Mempelajari sistem GMP (Good Manufacturing Practices) yang diterapkan pada perusahaan pembekuan fillet ikan kakap beku di PT Ujung Timur Sidoarjo Jawa Timur

 

1.4                Keterbatasan

Penulisan ilmiah ini memiliki kendala-kendala yang di hadapi oleh peneliti dalam melaksanakan penelitiannya. Berikut ini adalah kelemahan dan kekurangan yang terdapat dalam penelitian ini:

  1. Penelitian ini hanya di lakukan pada lingkup PT Ujung Timur Sidoarjo Jawa Timur sehingga hasilnya akan berbeda jika digeneralisasi dengan Industri perikanan yang lain
  2. Penelitian ini tidak mempertimbangkan variabel-variabel lain yang mungkin dapat mempengaruhi pendidikan dan latihan, misalnya tingkat konpensasi, masa kerja, pola/perencanaan karir dan lainnya.

 

1.5         Definisi Istilah

Definisi istilah yang terkait dalam penulisan ilmiah ini adalah:

  • Perikanan adalah kegiatan manusia yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hayati perairan
  • GMP (Good Manufacturing Practices) adalah sistem yang memuat persyaratan minimum yang harus dipenuhi oleh industri makanan dan kemasan, terkait dengan keamanan pangan, kualitas dan persyaratan hukum. 
  • Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) adalah suatu system yang mengidentifikasikan bahaya spesifik yang mungkin timbul dalam rantai makanan dan tindakan pencegahan untuk mengendalikan bahaya tersebut dengan tujuan menjamin keamanan makanan

 

 

 

 

 

BAB 2. Pengolah Data dan Analisis

                               

 

 

3.1       Metode pengumpulan data

            Data dikumpulkan dan diuji berdasarkan pencarian fakta dengan interpretasi secara sistematis sesuai dengan tujuan kegiatan yang dilaksanakan

 

3.2       Metode Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses pengolahan data yang telah dikumpulkan sebelumnya. Pemilihan alat analisa yang tepat dan memadai akan memberikan suatu hasil yang dipercaya. Dalam penelitian ini analisis yang digunakan adalah analisis kualitifif dan analisis kuantitatif. Skala pengukuran merupakan proses untuk menentukan skor di mana alat instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Tujuan pembuatan kuesioner adalah untuk memperoleh informasi yang relevan setelah responden menunjukkan sikap terhadap atribut produk, selanjutnya dilakukan pemberian bobot (skor) untuk penilaian sikap yang diberikan oleh responden.

 

3.3       Prosedur Validasi

Validasi item adalah bahwa sebuah kunci item (pertanyaan) dapat dikatakan valid jika mempunyai dukungan yang kuat terhadap skor total. Dengan kata lain, sebuah item pertanyaan diaktakan mempunyai validasi yang tinggi jika terdapat skor kesejajaran (korelasi yang tinggi) terhadap skor total item. Dengan demikian, pengujian terhadap item ini dilakukan dengan menggunakan uji korelasi product moment pearson. Keeratan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya, biasa disebut dengan koefisien korelasi yang ditangani dengan “r”. Koefisien korelasi “r” merupakan tafsiran dari korelasi dengan sampel normal (acak).

 

BAB 3 Rangkuman dan Saran

 

4.1       Rangkuman dan Konklusi

            PT Ujung Timur merupakan salah satu perusahaan perikanan yang telah menerapkan Good Manufacturing Practise (GMP) pada produk olahan hasil perikanan sehingga diharapkan akan mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang baik serta dapat diterima oleh konsumen di negara tujuan ekspor. Penerapan program GMP (Good Manufacturing Practise) di PT Ujung Timur menunjukkan bahwa perusahaan ini menerapkan GMP secara menyeluruh pada setiap proses pengolahan fillet ikan kakap beku. Berdasarkan hasil analisis di lapangan dari aspek GMP saja yang didasarkan pada pengujian standar SNI, diketahui bahwa perusahaan ini memiliki tiga penyimpangan mayor. Penyimpangan yang terjadi meliputi pembuangan isi perut dan proses pemfilletan yang dilakukan kurang higienis, pembuangan isi perut dan kepala tidak dilakukan pada tempat yang terpisah dengan pemfilletan, serta tidak adanya pernyataan tentang identifikasi produk beku yang mengandung parasit dari mana parasit tersebut berasal. Apabila tidak ada tindakan koreksi maka hal ini akan mempengaruhi keamanan pangan. Namun berdasarkan sertifikat kelayakan pengolahan (SKP), PT Ujung Timur dikategorikan dalam grade B, yaitu tingkat sertifikat menengah yang menyatakan hasil penilaian terhadap fisik, SSOP, GMP dan HACCP atau PMMT terdapat kriteria serius maksimal 2. Dengan sertifikat grade B, PT Ujung Timur dapat melakukan ekspor ke negara mana saja kecuali negara yang mempunyai persyaratan harus grade A.

 

4.2.1         Saran

Saran yang dapat diberikan yaitu saran fisik dan saran operasional. Saran fisik meliputi pembangunan pos kesehatan untuk memeriksa secara langsung kesehatan para karyawan, penambahan sarana toilet, pelengkapan berbagai sarana perlengkapan karyawan untuk proses produksi dan mesin pendeteksi logam. Adapun saran operasionalnya adalah pengoptimalan kinerja quality control (QC) serta memperketat pengawasan terhadap seluruh karyawan dan memberi sanksi terhadap karyawan yang tidak menaati peraturan. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: